Pak lurah mengajak Paman Dogol berkeliling desa. Mereka
berdua berjalan beriringan menuju kesuatu tempat yang ingin dituju Pak Lurah.
“Pak Lurah, kita ini mau kemana sebenarnya?” Taya Paman
Dogol sambil memainkan tali tambang yang dari tadi dibawanya.
Pak Lurah hanya diam tidak menjawab pertanyaan dari Paman
Dogol, hanya mengernyitkan dahi sembari sedikit tersenyum.
Mereka terus berjalan menyusuri jalan desa yang sedikit
berbatu dan hanya saling diam. Paman Dogol bertanya-tanya dalam hati. “Mau
dibawa kemana…ini aku sama Pak Lurah”.
“Aha…, ini Gol, kita sudah sampai. Aku itu mau membali
kambing Gol. Ayo bantu saya memilih kambing”. Ujar Pak Lurah.
“kambing buat apa Pak Lurah? Pak Lurah lagi hobi
memelihara kambing ya?” Ujar Paman Dogol kemudian.
“Kamu itu gimana ta Gol…, sebentar lagi kan Idul Adha,
jadi saya beli kambing ya buat disembelih untuk dikurbankan”. Jawab Pak Lurah.
Sejenak Pak Lurah dan Paman Dogol terdiam sambil
memilih-milih kambing yang bias dijadikan kurban.
“Pak Lurah…Pak Lurah…, ini semua kan kambing, memangnya
mau memilih yang bagaimana ta Pak? Sama-sama kambingnya kan Pak?”. Celetuk
Paman Dogol memecah keheningan diantara suara-suara kambing yang mengembik.
“Walah-walah Gol-Gol…, semuanya ini memang kambing, tapi
namanya kurban ya harus memilih sesuai syarat hewan yang dijadikan kurban”.
Jawab Pak Lurah sambil menepuk bahu Paman Dogol.
“Maksudnya bagaimana itu Pak? Ada syaratnya begitu?”.
Tanya Paman Dogol kebingungan.
“Ya jelas ada lah Gol. Syaratnya itu yang jelas harus
sehat, tidak cacat, umurnya juga harus memenuhi syarat, kalau kambing minimal 1
tahun, dan tidak kurus”. Terang Pak Lurah.
Setelah hampir 1 jam memilih dan tawar-menawar harga, akhirnya
Pak Lurah mendapatkan kambing yang tepat dengan harga yang memuaskan. Selesai
membayar, Pak Lurah membawa pulang kambing itu bersama Paman dogol.
“Gol aku titip kambing ini ya, kamu rawat kambing ini
layaknya kamu merawat diri kamu sendiri, mengerti Gol!!”. Pinta Pak Lurah pada
Paman Dogol.
“Baik Pak Lurah, aku siap menjalankan tugas dari Pak
Lurah. Aku akan merawat kambing ini sampai waktunya hari raya Idul Adha begitu
kan Pak Lurah?” jawab Paman Dogol dengan semangat.
“Benar sekali Gol. Oke kalau begitu kamu bawa pulang
kambing saya ini ke rumah mu, sekarang aku mau ke balai desa, ada rapat dengan
para perangkat desa”.
Di pertigaan jalan desa itu, Pak Lurah dan Paman Dogol
berpisah. Pak Lurah berbelok ke kanan menuju balai desa, sedangkan Paman Dogol
berbelok ke kiri menuju rumah sambil menarik tali yang mengikat leher kambing.
Keesokan harinya, terlihat Paman Dogol yang sedang duduk
jongkok di depan rumah bersama kambing pak Lurah. Datanglah pak Brengos dan Pak
Tompel menghampiri Paman Dogol.
“Hai Gol, sedang apa kamu?” Tanya Pak Brengos
“Kamu gak lihat, aku sedang member makan kambing. Ini itu
kambingnya Pak Lurah”. Jawab Paman Dogol dengan santainya.
“Tapi kok gitu sih Gol?” Tanya Pak Tompel keheranan.
“Iya Gol, itu kan kambing, masak kamu kasih makan nasi,
sayur asem sama ikan asing. Terus itu juga, kenapa kamu memakaikan baju pada
kambing itu? Sadar Gol, itu hanya seekor kambing”. Kata Pak Brengos sambil
mengelu-elus brengosnya dengan jari telonjuk dan jempol tangan kanannya.
“Kalian itu yang gak ngerti. Ini itu kambingnya Pak Lurah.
Kemarin Pak Lurah berpesan agar aku itu merawat kambing ini layakya merawat
diriku sendiri. Nah…kalau aku makan nasi, sayur asem sama ikan asing,
ya…kambingnya juga harus makan makanan yang sama seperti aku ini, dan juga
memakai pakaian bajuku ini, sesuai amanah dari Pak Lurah”.
Mendengar jawaban
Paman Dogol, Pak Tompel dan pak Brengos hanya bengong sambil
menggeleng-gelengkan kepala dan tersenyum-senyum melihat tingkah laku
sahabatnya itu.
Sulistiana
Tidak ada komentar:
Posting Komentar