Kamis, 31 Oktober 2013

KAMBING PAK LURAH DAN PAMAN DOGOL



            Pak lurah mengajak Paman Dogol berkeliling desa. Mereka berdua berjalan beriringan menuju kesuatu tempat yang ingin dituju Pak Lurah.
            “Pak Lurah, kita ini mau kemana sebenarnya?” Taya Paman Dogol sambil memainkan tali tambang yang dari tadi dibawanya.
            Pak Lurah hanya diam tidak menjawab pertanyaan dari Paman Dogol, hanya mengernyitkan dahi sembari sedikit tersenyum.
            Mereka terus berjalan menyusuri jalan desa yang sedikit berbatu dan hanya saling diam. Paman Dogol bertanya-tanya dalam hati. “Mau dibawa kemana…ini aku sama Pak Lurah”.
            “Aha…, ini Gol, kita sudah sampai. Aku itu mau membali kambing Gol. Ayo bantu saya memilih kambing”. Ujar Pak Lurah.
            “kambing buat apa Pak Lurah? Pak Lurah lagi hobi memelihara kambing ya?” Ujar Paman Dogol kemudian.
            “Kamu itu gimana ta Gol…, sebentar lagi kan Idul Adha, jadi saya beli kambing ya buat disembelih untuk dikurbankan”. Jawab Pak Lurah.
            Sejenak Pak Lurah dan Paman Dogol terdiam sambil memilih-milih kambing yang bias dijadikan kurban.
            “Pak Lurah…Pak Lurah…, ini semua kan kambing, memangnya mau memilih yang bagaimana ta Pak? Sama-sama kambingnya kan Pak?”. Celetuk Paman Dogol memecah keheningan diantara suara-suara kambing yang mengembik.
            “Walah-walah Gol-Gol…, semuanya ini memang kambing, tapi namanya kurban ya harus memilih sesuai syarat hewan yang dijadikan kurban”. Jawab Pak Lurah sambil menepuk bahu Paman Dogol.
            “Maksudnya bagaimana itu Pak? Ada syaratnya begitu?”. Tanya Paman Dogol kebingungan.
            “Ya jelas ada lah Gol. Syaratnya itu yang jelas harus sehat, tidak cacat, umurnya juga harus memenuhi syarat, kalau kambing minimal 1 tahun, dan tidak kurus”. Terang Pak Lurah.
            Setelah hampir 1 jam memilih dan tawar-menawar harga, akhirnya Pak Lurah mendapatkan kambing yang tepat dengan harga yang memuaskan. Selesai membayar, Pak Lurah membawa pulang kambing itu bersama Paman dogol.
            “Gol aku titip kambing ini ya, kamu rawat kambing ini layaknya kamu merawat diri kamu sendiri, mengerti Gol!!”. Pinta Pak Lurah pada Paman Dogol.
            “Baik Pak Lurah, aku siap menjalankan tugas dari Pak Lurah. Aku akan merawat kambing ini sampai waktunya hari raya Idul Adha begitu kan Pak Lurah?” jawab Paman Dogol dengan semangat.
            “Benar sekali Gol. Oke kalau begitu kamu bawa pulang kambing saya ini ke rumah mu, sekarang aku mau ke balai desa, ada rapat dengan para perangkat desa”.
            Di pertigaan jalan desa itu, Pak Lurah dan Paman Dogol berpisah. Pak Lurah berbelok ke kanan menuju balai desa, sedangkan Paman Dogol berbelok ke kiri menuju rumah sambil menarik tali yang mengikat  leher kambing.
            Keesokan harinya, terlihat Paman Dogol yang sedang duduk jongkok di depan rumah bersama kambing pak Lurah. Datanglah pak Brengos dan Pak Tompel menghampiri Paman Dogol.
            “Hai Gol, sedang apa kamu?” Tanya Pak Brengos
            “Kamu gak lihat, aku sedang member makan kambing. Ini itu kambingnya Pak Lurah”. Jawab Paman Dogol dengan santainya.
            “Tapi kok gitu sih Gol?” Tanya Pak Tompel keheranan.
            “Iya Gol, itu kan kambing, masak kamu kasih makan nasi, sayur asem sama ikan asing. Terus itu juga, kenapa kamu memakaikan baju pada kambing itu? Sadar Gol, itu hanya seekor kambing”. Kata Pak Brengos sambil mengelu-elus brengosnya dengan jari telonjuk dan jempol tangan kanannya.
            “Kalian itu yang gak ngerti. Ini itu kambingnya Pak Lurah. Kemarin Pak Lurah berpesan agar aku itu merawat kambing ini layakya merawat diriku sendiri. Nah…kalau aku makan nasi, sayur asem sama ikan asing, ya…kambingnya juga harus makan makanan yang sama seperti aku ini, dan juga memakai pakaian bajuku ini, sesuai amanah dari Pak Lurah”.
            Mendengar  jawaban Paman Dogol, Pak Tompel dan pak Brengos hanya bengong sambil menggeleng-gelengkan kepala dan tersenyum-senyum melihat tingkah laku sahabatnya itu.
                                                                                                                                           
                                                                                                                                               Sulistiana

Tidak ada komentar:

Posting Komentar