Sabtu, 26 Oktober 2013

Anakmu Bukan Anakmu



Inilah saat-saat yang aku tunggu-tunggu. ’’Kebebasan…” Kata itu yang selama ini aku nanti, dan memerlukan sebuah pengorbanan serta keberanian untuk meraihnya. Ku merindukan suasana yang seperti ini, dimana aku dapat duduk tenang memandang langit  bagai lukisan tinta hitam yang mewarnai seluruh permukaan kanvas dengan titik-titik  putih yang menghiasi memancarkan secercah sinar gemerlap. Kebebasan tanpa harus melakukan apa yang tidak aku inginkan, tanpa harus merasa terkekang. Kini aku bagaikan seekor anak ayam yang baru keluar dari kekangan kulit cangkang.
Kulayangkan segenap anganku pada suatu kenangan yang mengisi perjalanan masa lalu hidupku. Di kehidupanku saat ini memang masih di bayangi sosok kehidupan masa silam tertatap wajah si biru langit. Masalah dan rintangan yang senantiasa menghampiri langkahku menuju kebahagiaan hidup serta kebebasan bahkan sampai aku sendiri bertekad jangan pernah menyerah. Semuanya aku hadapi dengan senyum…
Mungkin berat kalimat ini “ kita takkan pernah kembali di masa lalu kita, hadapilah hidup ini, karena hidup ini sebuah kenyataan yang tak bisa kita ulang dan takkan bisa kita tunda – tunda. Hanya memerlukan sedikit keberanian untuk mencapai perubahan yang lebih baik.
                                                   *       *       *
Dimasa lalu itu saat aku berusia 12 tahun tepat 8 tahun yang lalu, Zahra kecil mengintip dari sebuah jendela kamar tidurnya. Dari jendela itu Zahra kecil dapat melihat keriangan anak-anak sebayanya bermain, berlarian, bercanda serta senyum manis lewat bibir mungil itu menyuratkan kebahagiaan yang memancar dari raut muka mereka. Dengan suasana pagi yang mendukung di hari minggu yang cerah, burung-burung seolah ikut bernyanyi bagai alunan musik yang mengiringi tarian seorang penari latar. Dalam lamunan memandang tontonan itu tiba-tiba Zahra kecil dikagetkan oleh suara yang memanggilnya dari balik pintu.
”Ara..., ibu Melda sudah datang ” Suara mama jelas sekali terdengar oleh gendang telingaku. Namun saat itu aku masih menatap anak – anak itu dari jendela hingga akhirnya aku memenuhi panggilan mama dengan perasaan yang masih tertinggal di balik jendela.
”Kita mulai pelajarannya ya Ra...” Terang ibu Melda menunjuk ke sebuah judul lagu dari buku daftar lagu.
Yah...bu Melda merupakan guru les piano dan salah satu guru les privat yang khusus didatangkan mama dari kesepuluh guru les privat lainnya yaitu les piano, tari, renang, kepribadian, les bidang studi seperti les fisika, matematika, kimia, bahasa inggris, bahasa indonesia, dan komputer.
Aku jalani hari – hari ku dengan penuh rutinitas yang telah dijadwalkan oleh mama. Apalagi semenjak kepergian papa ke Rahmatullah, mama seolah  berusaha tidak larut dalam kesedihan dengan menyibukkan diri dengan melibatkan dirinya di setiap kegiatan ku. Apapun yang aku lakukan harus atas persetujuan serta keikutsertaan mama. Mulai dari berangkat sekolah harus diantar mama, pulangpun dijemput oleh mama serta mengikutkan aku dalam les – les yang menjenuhkan serta merampas waktu ku. Tidak ada waktu yang tersisa dari senin sampai minggu, semua berjalan monoton berulang – ulang begitu saja. Tidak ada waktu untuk sekedar bermain atau jalan – jalan dengan teman – teman sebaya, tidak ada waktu bagi aku untuk menikmati ketenangan tanpa menjalani rutinitas itu. Bahkan tak ada waktu aku untuk berbagi cerita dengan mama, mencurahkan semua isi hatiku.
                                           
*     *     *
3 tahun sepeninggal papa, mama mulai membuka sebuah butik. Baju – baju, gaun – gaun dan semuanya yang dijual di impor langsung dari luar negeri namun ada pula gaun hasil karya rancangan mama sendiri. Itu awal kesibukan mama yang luar biasa, semenjak itu sedikit demi sedikit mama mulai lepas dari keikutsertaannya dalam kegiatan keseharian ku. Mama tidak lagi mengantar serta menjemput aku kesekolah, tidak lagi ikut kemana aku keluar, akan tetapi yang tidak berubah adalah peraturan bahwa aku harus selalu mengikuti semua jadwal les yang telah diberikan mama serta peraturan – peraturan lain seperti pulang sekolah tepat waktu, harus pergi dengan sopir, waktu tidur dan bangun tidur pun di jadwal dan masih banyak lagi.
Selama itu aku menjadi anak yangt penurut dan tidak pernah sekalipun melanggar apa yang telah ditentukan oleh mama. Ini semata – mata aku lakukan demi membuat mama bahagia. Akan tetapi semua yang aku lakukan itu membuat aku tidak mempunyai banyak teman. Bahkan tepat di hari ulang tahunku yang ke 17 tidak ada teman yang menemaniku untuk merayakan hari jadiku itu. Yaa...meskipun ada satu, dua teman  yang ingat dengan mengirimkan sms ucapan selamat ulang tahun. Apalagi teman, bahkan mama saja tidak bersama aku dihari yang dianggap penting bagi beberapa anak seusiaku, dimana usia yang dianggap awal dari suatu kehidupan menuju kedewasaan dan mungkin bagi sebagian anak merupan usia untuk mendapat SIP yaitu Surat Izin Pacaran namun yang terpenting lebih dari itu adalah disetiap ulang tahun ku, aku selalu berdoa untuk satu harapan dan sangat berharap impian aku itu dapat terwujud.
Hinggaku beranikan diri untuk mengambil satu keputusan besar. Aku memulainya dengan menulis sebuah surat.
                                                                                       Untuk mama tersayang
Mama ini ada sebuah puisi karya Kahlil Gibran, spesial aku persembahkan untuk mama.
                                          ” Anakmu Bukan Anakmu ”

Anak adalah kehidupan
Mereka sekedar lahir melaluimu
Tetapi bukan berasal darimu
Walaupun bersamamu
Tetapi bukan milikmu
Curahkan kasih sayang
Tetapi bukan memaksakan pikiranmu
Karena mereka dikaruniai pikirannya sendiri
Berikan rumah untuk raganya
Tetapi tidak jiwanya
Karena jiwanya milik masa mendatang
Yang tidak bisa kau datangi bahkan dalam mimpi sekalipun
Bisa saja mereka mirip denganmu
Tetapi jangan pernah menuntut mereka jadi sepertimu
Sebab kehidupan itu menuju masa kedepan
Dan tidak tenggelam di masa lampau
Kaulah busur
Dan anak – anak mu lah anak panah yang meluncur
Sang pemanah maha tahu sasaran bidikan keabadian
Dia menentang kamu dengan kekuasaan
Hingga anak panah itu melesat jauh serta cepat
Meliukkan dengan suka cita dengan rentangan tangan Sang pemanah
Sebab mereka mengasihi anak – anak panah yang melesat laksana kilat
Sebagaimana pula dikasihi-Nya busur yang mantap.

Setelah mambaca puisi ini Zahra berharap mama bisa mengerti makna yang di ungkap puisi tersebut. Oya ma... dengan adanya surat ini pula, Zahra mohon pamit, Zahra ingin mencari jati diri Zahra sebenarnya. Mama tidak perlu khawatir karena Zahra akan kerumah eyang, akan tetapi Zahra minta sebelum mama memahami maksud puisi itu mama tidak boleh menyusul Zahra.
Zahra tidak bermaksud meninggalkan mama, ini aku lakukan demi mama. Love you mam...
                                                                                                   Zahra

Berkat surat itu akhirnya aku bisa meraih kebahagiaan yang sebenarnya sekarang. Akan tetapi ada yang lebih penting dari itu yaitu keberanian, diperlukan sedikit keberanian untuk mencapai perubahan yang lebih baik.
”Hai sayang”,mama memeluk ku dari belakang sambil kemudian aku berbalik dan mencium pipi halusnya.
Yah... akhirnya mama mengerti dengan apa yang sesungguhnya aku inginkan dan sekarang aku bahagia dengan kebebasanku. Mama menjadi seorang ibu yang tambah istimewa buat aku yaitu lebih demokrasi, pengertian serta lebih sayang sama aku.
Key... bagi para orang tua jangan memaksakan kehendaknya sendiri. Berikan kebebasan yang tidak bebas pada anak untuk menentukan jalan hidup serta keinginannya dan peran serta orang tua disini adalah sebagai sosok pemberi contoh yang baik, pembimbing dan juga penyemangat bagi mereka.

                                                                                       I Love You Mama... 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar