Inilah saat-saat yang aku
tunggu-tunggu. ’’Kebebasan…” Kata
itu yang selama ini aku nanti, dan memerlukan sebuah pengorbanan serta
keberanian untuk meraihnya. Ku merindukan suasana yang seperti ini, dimana aku
dapat duduk tenang memandang langit
bagai lukisan tinta hitam yang mewarnai seluruh permukaan kanvas dengan
titik-titik putih yang menghiasi
memancarkan secercah sinar gemerlap. Kebebasan tanpa harus melakukan apa yang
tidak aku inginkan, tanpa harus merasa terkekang. Kini aku bagaikan seekor anak
ayam yang baru keluar dari kekangan kulit cangkang.
Kulayangkan segenap anganku
pada suatu kenangan yang mengisi perjalanan masa lalu hidupku. Di kehidupanku
saat ini memang masih di bayangi sosok kehidupan masa silam tertatap wajah si
biru langit. Masalah dan rintangan yang senantiasa menghampiri langkahku menuju
kebahagiaan hidup serta kebebasan bahkan sampai aku sendiri bertekad jangan
pernah menyerah. Semuanya aku hadapi dengan senyum…
Mungkin berat kalimat ini “ kita takkan pernah kembali di masa lalu kita,
hadapilah hidup ini, karena hidup ini sebuah kenyataan yang tak bisa kita ulang
dan takkan bisa kita tunda – tunda. Hanya memerlukan sedikit keberanian untuk
mencapai perubahan yang lebih baik.
* *
*
Dimasa lalu itu saat aku berusia 12 tahun tepat 8 tahun yang lalu, Zahra
kecil mengintip dari sebuah jendela kamar tidurnya. Dari jendela itu Zahra
kecil dapat melihat keriangan anak-anak sebayanya bermain, berlarian, bercanda
serta senyum manis lewat bibir mungil itu menyuratkan kebahagiaan yang memancar
dari raut muka mereka. Dengan suasana pagi yang mendukung di hari minggu yang
cerah, burung-burung seolah ikut bernyanyi bagai alunan musik yang mengiringi
tarian seorang penari latar. Dalam lamunan memandang tontonan itu tiba-tiba Zahra
kecil dikagetkan oleh suara yang memanggilnya dari balik pintu.
”Ara..., ibu Melda sudah
datang ” Suara mama jelas sekali terdengar oleh gendang telingaku. Namun saat
itu aku masih menatap anak – anak itu dari jendela hingga akhirnya aku memenuhi
panggilan mama dengan perasaan yang masih tertinggal di balik jendela.
”Kita mulai pelajarannya ya
Ra...” Terang ibu Melda menunjuk ke sebuah judul lagu dari buku daftar lagu.
Yah...bu Melda merupakan guru
les piano dan salah satu guru les privat yang khusus didatangkan mama dari kesepuluh
guru les privat lainnya yaitu les piano, tari, renang, kepribadian, les bidang
studi seperti les fisika, matematika, kimia, bahasa inggris, bahasa indonesia,
dan komputer.
Aku jalani hari – hari ku
dengan penuh rutinitas yang telah dijadwalkan oleh mama. Apalagi semenjak
kepergian papa ke Rahmatullah, mama seolah
berusaha tidak larut dalam kesedihan dengan menyibukkan diri dengan
melibatkan dirinya di setiap kegiatan ku. Apapun yang aku lakukan harus atas
persetujuan serta keikutsertaan mama. Mulai dari berangkat sekolah harus
diantar mama, pulangpun dijemput oleh mama serta mengikutkan aku dalam les –
les yang menjenuhkan serta merampas waktu ku. Tidak ada waktu yang tersisa dari
senin sampai minggu, semua berjalan monoton berulang – ulang begitu saja. Tidak
ada waktu untuk sekedar bermain atau jalan – jalan dengan teman – teman sebaya,
tidak ada waktu bagi aku untuk menikmati ketenangan tanpa menjalani rutinitas
itu. Bahkan tak ada waktu aku untuk berbagi cerita dengan mama, mencurahkan
semua isi hatiku.
* *
*
3 tahun sepeninggal papa, mama
mulai membuka sebuah butik. Baju – baju, gaun – gaun dan semuanya yang dijual
di impor langsung dari luar negeri namun ada pula gaun hasil karya rancangan
mama sendiri. Itu awal kesibukan mama yang luar biasa, semenjak itu sedikit
demi sedikit mama mulai lepas dari keikutsertaannya dalam kegiatan keseharian
ku. Mama tidak lagi mengantar serta menjemput aku kesekolah, tidak lagi ikut
kemana aku keluar, akan tetapi yang tidak berubah adalah peraturan bahwa aku
harus selalu mengikuti semua jadwal les yang telah diberikan mama serta
peraturan – peraturan lain seperti pulang sekolah tepat waktu, harus pergi dengan
sopir, waktu tidur dan bangun tidur pun di jadwal dan masih banyak lagi.
Selama itu aku menjadi anak
yangt penurut dan tidak pernah sekalipun melanggar apa yang telah ditentukan
oleh mama. Ini semata – mata aku lakukan demi membuat mama bahagia. Akan tetapi
semua yang aku lakukan itu membuat aku tidak mempunyai banyak teman. Bahkan
tepat di hari ulang tahunku yang ke 17 tidak ada teman yang menemaniku untuk
merayakan hari jadiku itu. Yaa...meskipun ada satu, dua teman yang ingat dengan mengirimkan sms ucapan
selamat ulang tahun. Apalagi teman, bahkan mama saja tidak bersama aku dihari
yang dianggap penting bagi beberapa anak seusiaku, dimana usia yang dianggap
awal dari suatu kehidupan menuju kedewasaan dan mungkin bagi sebagian anak
merupan usia untuk mendapat SIP yaitu Surat Izin Pacaran namun yang terpenting
lebih dari itu adalah disetiap ulang tahun ku, aku selalu berdoa untuk satu
harapan dan sangat berharap impian aku itu dapat terwujud.
Hinggaku beranikan diri untuk
mengambil satu keputusan besar. Aku memulainya dengan menulis sebuah surat.
Untuk mama tersayang
Mama ini ada sebuah puisi karya Kahlil Gibran, spesial aku persembahkan
untuk mama.
” Anakmu Bukan Anakmu ”
Anak adalah kehidupan
Mereka sekedar lahir melaluimu
Tetapi bukan berasal darimu
Walaupun bersamamu
Tetapi bukan milikmu
Curahkan kasih sayang
Tetapi bukan memaksakan pikiranmu
Karena mereka dikaruniai pikirannya sendiri
Berikan rumah untuk raganya
Tetapi tidak jiwanya
Karena jiwanya milik masa mendatang
Yang tidak bisa kau datangi bahkan dalam mimpi sekalipun
Bisa saja mereka mirip denganmu
Tetapi jangan pernah menuntut mereka jadi sepertimu
Sebab kehidupan itu menuju masa kedepan
Dan tidak tenggelam di masa lampau
Kaulah busur
Dan anak – anak mu lah anak panah yang meluncur
Sang pemanah maha tahu sasaran bidikan keabadian
Dia menentang kamu dengan kekuasaan
Hingga anak panah itu melesat jauh serta cepat
Meliukkan dengan suka cita dengan rentangan tangan Sang pemanah
Sebab mereka mengasihi anak – anak panah yang melesat laksana kilat
Sebagaimana pula dikasihi-Nya busur yang mantap.
Setelah mambaca puisi ini Zahra berharap mama bisa mengerti makna yang di
ungkap puisi tersebut. Oya ma... dengan adanya surat ini pula, Zahra mohon
pamit, Zahra ingin mencari jati diri Zahra sebenarnya. Mama tidak perlu
khawatir karena Zahra akan kerumah eyang, akan tetapi Zahra minta sebelum mama
memahami maksud puisi itu mama tidak boleh menyusul Zahra.
Zahra tidak bermaksud meninggalkan mama, ini aku lakukan demi mama. Love
you mam...
Zahra
Berkat surat itu akhirnya aku
bisa meraih kebahagiaan yang sebenarnya sekarang. Akan tetapi ada yang lebih
penting dari itu yaitu keberanian, diperlukan sedikit keberanian untuk mencapai
perubahan yang lebih baik.
”Hai sayang”,mama memeluk ku
dari belakang sambil kemudian aku berbalik dan mencium pipi halusnya.
Yah... akhirnya mama mengerti
dengan apa yang sesungguhnya aku inginkan dan sekarang aku bahagia dengan
kebebasanku. Mama menjadi seorang ibu yang tambah istimewa buat aku yaitu lebih
demokrasi, pengertian serta lebih sayang sama aku.
Key... bagi para orang tua
jangan memaksakan kehendaknya sendiri. Berikan kebebasan yang tidak bebas pada
anak untuk menentukan jalan hidup serta keinginannya dan peran serta orang tua disini
adalah sebagai sosok pemberi contoh yang baik, pembimbing dan juga penyemangat
bagi mereka.
I
Love You Mama...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar